Friday, May 22, 2009

5/22: To Kill A Mockingbird

Waaww... saya menemukan buku bagus lagi nih. Judulnya "To Kill A Mockingbird", ini merupakan novel klasik moderen karya Harper Lee yang diterbitkan pertama kali tahun 1960 (jadul banget...)

Novel ini mengangkat tema sosial khususnya terkait dengan isu rasial yang terjadi Amerika sekitar tahun 1930-an yang ditulis berdasarkan pengamatan pribadi penulis atas kejadian-kejadian disekitarnya ketika dia masih berumur 10 tahun. Buku ini begitu menyentuh, penuh pesan moral dan mengandung kritik tapi disajikan dengan cara yang ringan serta mudah untuk dipahami semua kalangan.

Begitu fenomenalnya novel ini sampai-sampai dinobatkan dalam daftar "every adult should read before they die" alias buku yang wajib dibaca sebelum mati dan menempati peringkat teratas setelah injil (Busyeeet dah...). Masih banyak lagi prestasi yang diraih oleh novel ini antara lain, masuk dalam guinness book of record karena penjualannya yang melebihi 30 juta copy serta meraih penghargaan pulitzer dalam kategori fiksi.


(ini cover versi Indonesia-nya)

Tidak diragukan lagi... buku ini memang wajib dibaca. Di Amerika, buku ini bahkan dijadikan sebagai bahan literatur pengajaran.

Penasaran??? saya coba berikan resensinya sedikit...

Novel ini berseting di sebuah kota bernama Maycomb di Alabama pada masa-masa resesi yang tengah menimpa Amerika. Penceritaannya disajikan dari sudut pandang tokoh utama yaitu seorang gadis kecil bernama Jean Louis "Scout" Finch. Ayahnya, Atticus Finch adalah seorang pengacara yang memiliki standar moral yang tinggi. Kisah ini diawali dengan ketertarikan Scout dan kakaknya - Jem, serta teman mereka Dill mengenai rumor lokal tentang seorang pria bernama Boo Radley yang tinggal di lingkungan mereka tapi tak pernah tampak keluar dari rumahnya. Cerita yang berkembang saat itu mengatakan Boo adalah pria yang mengidap penyakit kejiwaan, pernah menusuk kaki ayahnya dengan gunting, dan bertingkah seperti monster. Terang saja hal tersebut membangkitkan rasa penasaran Scout dkk untuk tahu lebih dalam mengenai Boo. Mereka mulai mencoba untuk berkomunikasi dengan Boo dengan cara mengirimkan surat yang diletakkan di jendela Boo dengan menggunakan alat pancing. Akan tetapi Atticus keburu memergoki aksi anak-anak tersebut dan memperingatkan mereka untuk tidak mengusik tetangga mereka itu.

Namun peringatan Atticus tidak dapat menghentikan rasa keingintahuan anak-anak. Pada suatu malam mereka bertiga menyusup ke rumah Boo dan berusahaa mengintip Boo dari salah satu jendela. Nathan Radley, kakak Boo yang juga tinggal di rumah itu mendengar suara orang mengendap-enadap di halaman rumahnya sontak melepaskan tembakan peringatan. Anak-anak tersebutpun segera kabur, namun ketika mereka melewati pagar kawat, celana Jem tersangkut. Karena tak ingin ketahuan ia pun segera melepaskan celana tersebut. Tengah malam setelah peristiwa itu Jem kembali ke rumah Radley untuk mengambil kembali celananya, namun tak diduga ia mendapati celananya telah tergantung rapi dipagar kawat dengan bekas sobekan yang sudah terjahit.

Cerita terus bergulir, kehidupan Scout dan kakaknya yang ceria mulai berubah ketika Atticus memutuskan untuk membantu kasus yang melibatkan seorang pria kulit hitam bernama Tom Robinson. Tom dituduh telah memperkosa seorang gadis miskin bernama Mayella Ewell. Mayella merupakan anggota keluarga Ewell yang terkenal memiliki reputasi buruk dan sering tersangkut masalah-masalah kriminal. Keluarga Ewell termasuk golongan orang-orang tersisih di Maycomb, kasarnya nih.. mereka itu dianggap sebagai sampah masyarakat. Keputusan Atticus membela Tom menyebabkan keluarga Finch menghadapi kecaman keras dari lingkungan mereka terkait masalah rasial. Akan tetapi Atticus tetap pada pendiriannya, ia terus maju karena hati nuraninya berkata ia harus membela Tom. Atticus tahu bahwa para juri kulit putih tidak akan pernah percaya pada pria berkulit hitam yang tidak bersalah dibandingkan gadis kulit putih yang jelas-jelas punya reputasi buruk. Atticus ingin menunjukkan kebenaran pada warga dikotanya, menghancurkan sifat kefanatikan, dan menyadarkan masyarakat untuk membangun persamaan diantara ras.

Walah... kalau diteruskan bisa sampai besok nih ceritanya.. Cara yang paling bijak untuk tahu lebih dalam mengenai novel ini adalah membaca sendiri. Boleh pinjam, beli, ato klo mau gratisan monggo bisa diunduh disini.

Ada beberapa quote dalam buku ini yang menurut saya memiliki makna yang dalam (cie.. ile.. sumur kalee.. dalam..), dan ini salah satu yang saya suka :

“She was. She had her own views about things, a lot different from mine, maybe… son, I told you that if you hadn’t lost your head I’d have made you go read to her. I wanted you to see something about her—I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It’s when you know you’re licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what. You rarely win, but sometimes you do. Mrs. Dubose won, all ninety-eight pounds of her. According to her views, she died beholden to nothing and nobody. She was the bravest person I ever knew.”
Share

No comments:

Post a Comment